Kamis, 14 Januari 2016

Siapakah Aku



Pendahuluan
Pada saat kita dihadapkan pada pengertian diri kita sendiri, maka konsep untuk mengartikan dirinya sendiri antara satu orang dengan orang yang lain pastilah berbeda.
Pada saat pertanyaan ini diberikan pada seorang anak kecil baik laki-laki maupun perempuan maka, anak- anak itu dengan polosnya akan mengatakan tentang dirinya dengan jujur tanpa harus banyak berpikir dulu. Misalnya, siapakah kamu? Pastilah jawaban yang dapat dibayangkan terlontar dari mulutnya ialah anak itu menyebutkan nama mereka. Perkembangan kognitif anak kecil berbeda sekali jika dibandingkan remaja ataupun dewasa dalam menelaah sebuah pertanyaan. Banyak faktor juga yang dapat mempengaruhi jawaban-jawaban mereka, baik faktor dari internal maupun eksternalnya. Dari tingkat kedewasaannya dalam berpikir dan juga pengalaman-pengalaman pribadinya, dari lingkungan keluarga maupun lingkungan sekolahnya.
Kita akan mencoba menemukan beberapa pendapat tentanng siapakah aku dalam tulisan ini.
Pembahasan Masalah
Siapakah aku?
Pada saat dihadapkan ke dalam pertanyaan tersebut, sebagai manusia dewasa  yang dikaruniakan segala yang lebih sempurna dari makhluk lainnya, yang telah mempelajari dirinya akan banyak merumuskan definisi “ AKU” dalam beberapa implikasi; misalnya,
Ketika “Aku” dimengerti sebagai “subjek” memaksudkan bahwa aku yang beraktivitas, sadar, berefleksi dan mencari kebenaran. Aku adalah itu yang sadar akan hidup. Aku yang hidup itu adalah roh yang diberikan banyak dorongan untuk bertumbuh. Aku ini memiliki sifatnya hayat atau hidup, berilmu pengetahuan, memiliki pendengaran, penglihatan, kudrat atau kuasa, iradat atau berkehendak dan diberikan keleluasaan berkata-kata. Semua sifat limpahan dari maha pencipta semesta alam raya.
Selanjutnya ketika “Aku” dimaknai sebagai pribadi yang muncul sebagai pribadi yang telah tumbuh dengan kekompleksitasan hidupnya, maka “Aku” adalah diriku sendiri yang meliputi jiwa dan raga yang melibatkan segala rasa, cipta dan karsanya dalam pengembangan dirinya kearah kognitif, afektif dan juga konatifnya. “Aku” adalah sebuah pribadi yang dimiliki dan terikat kepada sesuatu yang mempunyai upaya untuk mengungkapkan siapa dirinya yang berhubungan dengan kematangan jiwanya dan raganya, untuk menyimpulkan siapa dirinya sebenarnya.
“Aku” yang terbentuk dari kejadian yang dahsyat antara dua makhluk Allah yang paling sempurna tadi harus dapat mengerti keajaiban-keajaiban yang ada di dalam dirinya sendiri. Jiwa nya dengan sadar akan menyadari siapa “Aku” ini sebenarnya ketika semuanya perkembangan dalam dirinya berkembang dengan penuh kesinambungan dan menghasilkan kedewasaan dan konsep pengendalian diri yang baik.
“Aku” bisa menjadi jelek ditafsirkan jika dirinya tidak banyak memiliki keterkaitan dengan hal-hal lain di dalam hidupnya sepanjang perjalanan yang di laluinya dari masa dikandung oleh ibunya sampai ia dilahirkan dan menjadi anak, remaja, dewasa, dan akhirnya menjadi tua.
“Aku yang terbentuk dari banyak pikiran dan pengalaman tadi di sekitar ruang yang melingkupi hidupnya akan mengerti bahwa dirinya unik dan mempunyai segala hal yang dapat menjadikannya mengerti mengapa “Aku” ada dan mencari tahu keberadaan dirinya.
Aku pastinya sesuatu yang baik yang lahir dari bentuk konsep yang baik dan melahirkan ke”aku”an yang baik pula, untuk melakukan segala hal yang berhubungan dengan ke “Aku”annya tadi. Dan begitu juga sebaliknya, aku juga bisa menjadi sesuatu yang jahat jika lahir dari konsep pribadi yang jahat.
Pada saat pertanyaan tersebut dilontarkan kepada salah satu orang yang mengerti Tuhan, dan memahami Tuhan dengan membaca semua kitab sucinya, maka jawaban yang terlontar berkaitan dengan pertanyaan siapakah “Aku” ini jawabannya akan seperti ini; aku adalah anak Tuhan, identitas tentang aku adalah anak Tuhan itu Tuhan berikan sendiri dalam perkataanNya, siapa yang percaya dalam NamaKu, ialah anak Allah, yaitu dia yang menuruti segala perintahku dan menjauhi segala laranganKu. Demikian juga, jawaban yang terlontar seperti berikut ini; aku adalah anak raja, karena memang manusia itu lahir dari keturunan raja-raja. Dari Nabi Adam dan Siti Hawa. Yang keduanya melahirkan raja-raja di dunia ini.
 Siapakah manusia?
Sebagaimana telah dijelaskan diatas bahwa kita adalah keturunan Adam dan Hawa yang adalah manusia pertama dan yang paling dikasihi Allah, walaupun Adam dan Hawa berdosapun, Allah tetap mengasihi mereka. Kita adalah manusia yang berharga yang diciptakan oleh Allah untuk tujuan khusus, untuk melengkapi semua yang telah Allah gariskan. Siapakah manusia sehingga Allah sangat mengasihinya. Sebagaimana besarnya kah kasih Allah terhadap manusia ini sehingga “manusia” di sebutlah sebagai makhluk yang paling sempurna dibandingkan dengan makhluk yang lainnya yang telah diciptakan oleh ALLAH.  Manusia yang diciptakan sesuai dengan gambar Allah dan dianugrahi banyak sifat-sifat yang hampir sepenuhnya menyerupai penciptanya, dengan akal dan pikirannya, mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Sungguh manusia yang terjadinya secara ajaib ini mampu menaklukkan bumi dan segala isinya karena Allah menciptakannya secara luar biasa untuk segala kebaikannya untuk hidup di dunia yang dibentuk oleh penguasa segalanya ini.
Namun, manusia tetaplah manusia yang di dalam pembentukannya yang paling baik tersebut tidak dapat hidup dengan dirinya sendiri. Dia perlu teman karena memang dia tercipta sebagai makhluk sosial, makhluk yang membutuhkan pertolongan orang lain, dan makhluk yang akan selalu dan senantiasa belajar untuk mencari tahu tentang semua keberadaan dirinya mengapa dia ada dan untuk apa dia ada sepanjang umur hidupnya sampai akhir menutup mata.
Bentuk perkembangan manusia yang mencari jati dirinya ini senantiasa dibarengi dengan segala pengaruh-pengaruh yang melingkupi hidupnya yang membuatnya merasakan keinginan dan ingin juga memenuhi keinginannya dalam mencapai rasa percaya dirinya.
Sejauh mana manusia itu mengenal ke-“aku”-annya sebagai dirinya yang terdalam, yang membedakannya dengan mahkluk hidup yang lainnya (binatang dan tumbuhan)? Bahwa aku yang sesungguhnya terletak pada akal dan budhi, derajatnya paling mulia diantara makhluk-makhluk lain. Aku yang berakal mampu memberi banyak hal, mengisi kebaikan maupun keburukan di muka bumi.
Aku ini terdiri dari bentuk luar yang disebut sebagai jasad, dan wujud dalam yang disebut sebagai hati atau ruh. Yang saya maksudkan dengan "hati" bukanlah sepotong daging yang terletak di bagian kiri badan, tetapi sesuatu yang menggunakan fakultas-fakultas lainnya sebagai alat dan pelayannya. Pada hakikatnya dia tidak termasuk dalam dunia kasat-mata, melainkan dunia maya; dia datang ke dunia ini sebagai pengunjung yangmengunjungi suatu negeri asing untuk keperluan perdagangan dan yang akhirnya akan kembali ke tanah asalnya.
Aku ini bisa menjadi makhluk lemah selemah-lemahnya makhluk, suatu waktu jasad ini dapat terkoyak hancur karena hanya berupa tulang yang dibungkus daging. Di waktu yang lain akupun bisa menjadi makhluk yang paling kuat oleh pemikiran-pemikiran hebat yang tak dapat diperoleh oleh makhluk lain. Sebenarnya manusia amatlah lemah dan hina. Hanya di dalam kehidupan yang akan datang sajalah ia akan mempunyai nilai, jika dengan sarana "kimia kebahagiaan" tersebut ia meningkat dari tingkat hewan ke tingkat malaikat. Jika tidak, maka keadaannya akan menjadi lebih buruk dari orang-orang biadab yang pasti musnah dan menjadi debu. Perlu baginya untuk - bersamaan dengan timbulnya kesadaran akan keunggulannya sebagai makhluk terbaik - belajar mengetahui juga ketidakberdayaannya.

Mengapa aku harus dilahirkan kedunia?
Kita tidak pernah tahu tujuan sesungguhnya untuk apa kita hadir di tengah-tengah orang banyak, berkumpul, bergaul, saling berhadapan-hadapan dan membicarakan banyak hal. Kita juga tidak pernah tahu sebelumnya ketika kita lahir ke dunia dalam ketidakberdayaan lantas menjadi manusia yang mampu mengurusi diri sendiri. Kita pun tidak pernah tahu tujuan sebenar-benarnya tujuan akan penciptaan “aku” ini oleh maha yang menciptakan, apakah kita hanya sebatas penghias di muka bumi atau memang ada tujuan besar yang sedang dirancang maha pencipta untuk menjadi makhluk.
Apa alasan sebenarnya kita harus dilahirkan ke dunia ini? Sekalipun orang pintar bergelar professor jawaban itu  tak akan pernah benar-benar terjawab secara sempurna. Jawaban itu merupakan intisari dari diri kita sendiri. Namun yang jelas kita harus dilahirkan di dunia ini untuk menjadi bagian dari harmoni kehidupan. Kita tahu sedih selalu berdampingan dengan senang, miskin selalu berdampingan dengan kaya, susah selalu berdampingan dengan senang, dan banyak lagi berbagai hal yang saling bertolak belakang. Kita adalah pelengkap dari hal-hal itu agar kehidupan menjadi selalu seimbang.
Kitalah yang memilih alasan kita terlahir di dunia ini. kita bisa memilih menjadi sampah dunia. Melakukan hal – hal yang tidak berguna. Merusak diri sendiri dan orang lain, serta menyebarkan kesedihan bagi dunia. Atau sebaliknya kita ingin menjadi sesuatu yang berguna bagi dunia. Sebuah cara yang mudah namun seringkali kita lupa untuk melakukanya.
Dunia tidak mengharapkan semua orangnya menjadi orang yang buruk. Ibarat warna jika semuanya cerah tentu akan menyilaukan mata. Sentuhan warna gelap akan membuat kombinasi kehidupan menjadi indah. Namun jika untuk menjadi yang baik atau buruk memerlukan usaha yang sama, kenapa tidak memilih yang terbaik bagi kita? Namun sekali lagi hidup itu pilihan. Semoga kita bisa memilih dan menemukan alasan kita terlahir di dunia ini.
Kenapa Aku hidup sama halnya ketika kita disuruh menjawab pertanyaan kenapa bumi itu bulat? Jawabannya tidak akan sama antara seorang dengan yang lainnya. Semuanya bergantung kepada kemampuannya mencerna pertanyaan itu sendiri, dan jawaban yang beraneka ragam tersebut menunjukkan keunikkan ciptaan Tuhan yang satu ini “Manusia” namanya.
Tuhan menciptakan sedemikian rupa sehingga walaupu  kelihatannya serupa namun ternyata manusia tidak ada yang sama persis, bahkan kembar identikpun, tetap berbeda dalam susunan hormon dan hidupnya kelak akan bagaimana dibuat oleh Tuhan. Semuanya sangat berbeda. Itu sangat menunjukkan kekuasaan Tuhan yang tidak terbatas atas apapun juga di dunia ini.
Untuk apa kita lahir ke dunia?
Mengapa dan untuk apa kita dilahirkan di dunia ini adalah pertanyaan yang mungkin tampak sederhana namun sangat mendasar dan mendesak agar kita dapat memaknai gerak kehidupan kita di dunia ini. Jawaban dari kita pun pasti akan berbeda-beda menanggapi pertanyaan “untuk apa kita lahir ke dunia ini?”
Setiap penciptaan tentu telah memiliki rencana dan tujuan kenapa makhluk itu diciptakan. Setiap anggota badan kita termasuk mata, telinga, kaki, tangan, hidung dan lain-lain dicipta bukan dengan sia-sia, tetapi ada tujuan dan hikmahnya. Kalau tiap satu  darianggota badankita  ada tujuannya, apa lagi kehidupan kita secara keseluruhannya tentu mempunyai tujuan yang besar. Tujuan dan hikmahnya yang sebenar kita tidak akan ketahui melainkan dengan pemberitahuan daripada Penciptanya sendiri, karena Ia menciptakan sesuai dengan kehendak-Nya, tiada seorangpun mengetahui apa yang dikehendaki-Nya di sebalik penciptaan tersebut kecuali maha pencipta sendiri yang tahu.
Kita dilahirkan didunia ini pastilah ada maksud tertentu yang memang telah direncanakan Tuhan jauh hari sebelum kita menyadari itu. Dari cara kita dibuat yang sedemikian ajaibnya sehingga kita tidak mampu membayangkan bahkan menguraikannya dengan kata-kata sendiri juga telah membuktikan ke Maha Kuasaan Allah terhadap segala makhluk di dunia ini. Tuhan Allah membuat segala sesuatunya baik dan untuk sesuatu yang baik tanpa kita sadari. Pikiran Allah jauh melebihi akal kita. Dialah sutradara dalam hidup kita. Kertas putih tentang hidup kita telah ia tuntaskan tulisannya dan sampai kapanpun itu berakhirnya, DIAlah yang mengetahuinya. Kita tinggal menjalankan bagian yang telah dituliskan untuk hidup kita.
Manusia diciptakan oleh Tuhan Allah dengan segala yang istimewa, dipilih dari yang paling baik dari bakal janin, diolah di tubuh masing-masing wanita, dan diberikan pertumbuhannya secara luar biasa oleh Allah di dalam kandungan, ditenun sedemikian rupa sehingga dilahirkan dalam bentuk yang paling sempurna oleh masing-masing rahim wanita itu sendiri. Tuhan berkarya untuk memberikan pengetahuanNya kepada kita, tentang kasihNya dan segala yang membuat kita dapat berharga di mataNya. Pertanyaannya, apakah kita mau hidup sesuai yang diinginkan Tuhan, ataukah kita dengan segala kelebihan dan kesempurnaan yang kita punyai sebagai ciptaan Allah yang paling tinggi mau menyatukan hati dalam menaati perintah Tuhan dan memberikan hidup kita juga untuk kemuliaanNya?
Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat namun kita dapat percayai, karena itu sifatnya turun temurun dari nenek moyang kita. Kita yang percaya dan terus mencari misteriNya, mudah-mudahan dapat menemukan dia, walaupun sebenarnya Allah tidaklah jauh dari diri kita masing-masing. Karena kita diciptakan menurut gambarNya, secitra dengan Allah itu sendiri. Secara garis besar kita sudah mewakili sebagian besar karakter Allah, perbedaanNya hanyalah kita tidak mempunyai kekekalan hidup karena Adan dan Hawa telah membawa kita kepada kejatuhan alias “dosa”. Coba kalau dahulu Adam dan Hawa tidak berdosa, pastilah kita sekarang senantiasa berdampingan dengan Allah, kontak langsung denganNya, mendengar dan bermain denganNya dalam kesucian dan kemurnian. Walaupun demikian, Allah tetaplah Allah yang baik dan sayang kepada kita, manusia ciptaanNya, lepas dari murka dan kemarahanNya, DIA tetaplah ALLAH yang hidup dan menghidupi segala bangsa di dunia ini yang senantiasa mencariNYA, mencari kasihNya, mencari RahmatNya, dan mencari kedamaian di dalam hidupNya.
Dari satu orang yang diciptakan Allah, yaitu manusia yang dinamakan ALLAH sebagai Adam, Ia telah menjadikan semua bangsa dan manusia ini mendiami seluruh bumi, dan semua bagian telah diaturnya sedemikian rupa sehingga semuanya hidup, walaupun dalam musim-musim yang berbeda-beda. Allah memang luar biasa menciptakan manusia sebagai karyaNya yang paling berharga dibandingkan makhluk lainnya.
Kesimpulan
Dari semua bahasan diatas dapat ditarik kesimpulan tentang siapakah “Aku” dari berbagai persepsi jawaban, mulai dari anak, remaja, dewasa, dan tua, akan memberikan jawaban yang berbeda tergantung bagaimana kehidupannya berkembang dan bagaimana ia mengisi hidupnya dengan pengaruhnya di lingkungan internal dan eksternalnya, kehidupan pribadinya, dan setelah itu seberapa dekat ia dengan penciptaNya. Seseorang yang mempunyai hubungan dekat dengan penciptaNya akan bertindak lebih hati-hati karena mereka mencoba untuk mematuhi apa yang dikatakan oleh Allah dalam firman-firmanNya. Mereka juga cenderung mudah untuk memaafkan orang lain karena mereka mengerti untuk apa mereka hidup di dunia dan apa tujuan hidup mereka di dunia ini. Orang yang tidak mengenal siapa penciptanya dan tidak mau tahu siapa penciptanya itu cenderung akan bersikap seenaknya sendiri dengan keadaan dirinya. mereka mulai menilai itu dari kaca matanya sendiri dan tidak memperhatikan stautusnya sebagai makhluk sosial, makhluk yang tidak bisa hidup sendiri, makhluk yang memerlukan bantuan orang lain dalam memenuhi segala keperluan hidupnya.
Bahasan kenapa aku hidup, mungkin agak aneh dibahas dalam kaitannya bahwa kehidupan itu sebuah pilihan yang telah digariskan oleh Allah. Kita hidup karena Allah menginginkan kita hidup. Jika kita harus mati sekarang, itupun mudah untuk Allah lakukan terhadap diri kita. Yang jelas, kita hidup untuk melakukan apa yang telah ALLAH catat dalam buku harian pribadi kita, yang telah digariskan menjadi bagian hidup kita, untuk membuat sesuatu yang kita sendiri belum menyadarinya. Yang jelas, tujuan Allah untuk kehidupan kita semuanya baik, semuanya mulia, untuk menjadikan kita dewasa dalam segala tingkah laku kita, karena pesan yang tidak tersirat oleh Allah adalah bagaimana manusia itu bisa merendahkan hatinya, tidak sombong dan mau memulai hidup yang lebih baik dengan perbuatan yang baik dan menyadari bahwa hidupnya hanya ditentukan oleh perkataan TUHAN. Dalam bahasa Arab, kun fayakun, artinya jadilah padaku menurut kehendak ALLAH.
Kita tahu bahwa Allah itu baik, maka semua yang diinginkanNya akan kehidupan kita adalah yang terbaik, terlepas kita menyikapinya dengan tidak baik. Semua yang diinginkan oleh Allah adalah yang terbaik buat hidup kita. Kita diharapkan dapat mengerti karya besarNya dalam kehidupan kita pribadi yaitu untuk mendewasakan kita dari semua permasalahan yang kita hadapi supaya kita mampu untuk mengerti dan menyadari bahwa hidup kita adalah untuk kebaikan bagi kita sendiri, bagi sesama kita manusia bahkan bagi lingkungan sekitar kita yang terdiri dari banyak makhluk ciptaan yang lain yang juga diciptakan oleh Allah untuk menunjang kehidupan kita sebagai ciptaan Allah yang paling sempurna.
Manusia yang dapat mengerti bahwa kejadian penciptaannya ajaib dan mampu merenungkan mengapa dia ada di dunia ini untuk suatu tujuan yang baik, untuk memperbaiki hidup yang dulu nya penuh kesalahan karena nenek moyang kita yang telah jatuh dalam ketidaksucian yang disebut dengan dosa. Hidup sekali hiduplah yang mampu memberikan standar yang baik untuk Allah sehingga Allah menjadi berkenan dan penuh kasih dan memampukan kita untuk selalu melangkah dalam jalan yang telah menjadi pilihan Allah, yaitu JALAN LURUS.
Jika manusia yang hidup sudah mengetahui siapa jalan yang lurus itu dan bagaimana dia bisa menuju  ke dalam jalan yang lurus tadi dan untuk seterusnya dapat berada dalam jalan yang lurus tadi maka hidupnya akan berkesinambungan dan akan seimbang untuk melakukan hidup yang bermartabat dan berkenan dihadapan Allah.
Semua manusia mendapatkan kesempatan yang sama, tinggal keputusan ada di masing-masing jiwa dan hati manusia itu sendiri, apakah dia akan memilih jalan yang lurus atau jalannya sendiri.
Pada akhirnya, siapa aku, bagaimana aku hidup dan kenapa aku hidup, semua jawaban kembali pada individu masing-masing sesuai dengan tingkat kedewasaan dan perkembangan kehidupannya yang dialaminya di lingkungan internal dan eksternalnya sebagai bagian dari hidup intrapersonalnya juga interpersonalnya yang kesemuanya berkesinambungan dan berhubungan erat dengan kedekatannya dengan penciptanya. Setiap individu itu unik dankarakternyapun unik, tidak ada satupun yang sama, demikian hebatnya Allah menciptakan  gambar yang serupa dengan diriNya namun sebenarnya tidak sama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Beri Masukan dan Tanggapan